CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Saturday, January 7, 2012

Galau

Pacarku pernah bertanya. Apakah dulu aku sering menulis note di fesbuk. Aku mengiyakannya. Karena memang sudah ratusan note yang aku tulis.

Dari 347 note, sekarang hanya tersisa 200an. Aku menghapusnya ketika kami sedang bertengkar hebat. Dia menganggap aku masih ingin menyimpan kenangan masa laluku. Tak ingin ribut berkepanjangan, aku menghapus semua note yang berbau masa lalu. Lebih tepatnya, note tentang mantan-mantanku.

Kembali dia menanyakanku. Mengapa sejak dengannya aku jadi jarang menulis note. Aku pun menyadari itu. Dan aku sangat sadar alasannya.

Note yang aku tulis lebih sering didominasi sebagai pelampiasan galau. Ketika aku tak punya siapapun untuk berbagi cerita dan rasa. Dan sekarang aku punya dia. Sebisa mungkin, aku selalu membawanya menjadi orang yang ku ajak menikmati sepenggal ceritaku saat itu.

Kadang aku berpikir untuk bungkam ketika aku sedih atau kalut. Tapi aku ingin melibatkannya dalam kehidupanku. Agar dia tahu bagaimana aku. Bukan hanya ketika aku bahagia, tetapi juga di saat aku mempunyai masalah.

Tidak semua cerita ku bagi padanya. Karena setiap manusia punya permasalahan sendiri, jadi aku tak ingin menambah pusing dirinya. Dia yang sibuk selalu mau mendengarkanku. Membaca cerita-ceritaku yang terkadang berputar-putar tak jelas.

Kadang aku langsung bungkam ketika alisnya mulai mengernyit. Isyarat bahwa ceritaku mulai tak jelas. Nampak dia berpikir keras untuk mencerna. Dia tidak bodoh. Kekasihku itu cerdas. Aku lah yang tak pandai berbicara.

Aku sangat menyadari kekuranganku ini. Tidak komunikatif. Aku tak pernah marah jika ada orang yang mengatakan demikian. Seorang sahabat pernah berkata padaku, bicarakanlah, utarakanlah apa yang ingin kau ungkapkan. Kalau kau tak bisa menjelaskannya secara gamblang dengan satu kalimat, pakailah 10 atau 100 kalimat.

Aku termotivasi olehnya. Karena itu aku tak lagi minder. Aku tak bisa banyak berkata-kata. Setidaknya kepada orang yang membuatku merasa begitu takluk.

0 comments: