CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Monday, October 29, 2007

Jangan panggil aku “Indon”!


Bersamaan dengan ramainya kasus lagu Sayang-Sayange yang digunakan untuk Jingle Promo pariwisata Malaysia itu, muncul kembali suatu kata yang saya sangat gerah mendengarnya. Baik itu diucapkan oleh orang Malaysia atau (sayangnya) oleh orang Indonesia sendiri. INDON, iya indon. Potongan kata yang ditujukan untuk memanggil orang Indonesia di kalangan warga Malaysia.

Kata “Indon” mulai menjadi populer di Malaysia ketika media sana menyiarkan berita mengenai perbuatan kriminal yang dilakukan orang Indonesia. Misalnya, “Mafia Indon Mengganas” atau “PRT Indon Menculik Anak”. Lambat laun, persepsi orang terhadap “Indon” tidak lagi bagus (atau setidaknya netral) melainkan jelek. Seorang teman pernah bercerita, “Indon” artinya mirip “Preman” di sini. Anak yang nakal akan dimarahi, “Mau jadi apa kamu nanti? Mau jadi indon?”

Tapi tetap, menolak kata “Indon” sebab ia berkonotasi kriminal dan buruk adalah sebuah langkah aneh. Pertama, kata “Indon” tidak berarti apa-apa. Sepanjang kata itu tidak ring a bell di kepala saya, saya sih santai saja. Ini sama seperti kita dipanggil “xeslgh@%#sd;ai”. Tak ada arti, mana bisa ada konotasi.

Sumber : Berkala ITB ; Judul : “Indon (esia!)”

Intinya dari artikel itu, adalah menganggap biasa panggilan ini, hanya perkara konotasi saja. Makna konotatif. Selesai. Dan sayang seribu sayang, kolom komentar ditutup. Oke, saya tidak akan membahas orang Indonesia macam penulis di artikel itu yang membiarkan bangsanya sendiri direndahkan dengan panggilan seperti itu. Terlepas dari masalah apakah itu makna negatif atau positif.

Tapi buat saya pribadi, panggilan ini merendahkan. Men-cap jelek bangsa Indonesia dengan panggilan semau mereka. Silahkan gunakan fasilitas mesin pencari untuk melihat bagaimana kata indon ini digunakan oleh warga negara tetangga itu. Meskipun beberapa pakar bahasa menyatakan bahwa itu hanya pemenggalan kalimat biasa seperti yang kita lakukan sehari-hari. Namun saya melihat ada sebuah kebencian dan pelecehan di balik kata-kata itu.

Sekali lagi, saya menganjurkan bagi anda untuk tidak menggunakan kata ini. Biarkan mereka saja yang berkelakuan demikian. Setidaknya kita bisa melihat dari ungkapan itu betapa rendah rasa menghargai terhadap sesama manusia yang ditunjukkan oleh mereka. Kalau kita masih menggunakan kata “indon” untuk menyebut orang Indonesia, apa bedanya kita dengan mereka? Memangnya susah ya menambahkan kata -esia dibelakang kata Indon?

Saya cuma bilang, orang Indonesia jangan ikut-ikutan orang2 bodoh itu panggil Indon, ya!

Read More...

Intellipedia, Wikipedia Versi Mata-Mata


Masyarakat intelijen AS, Selasa (31/10/06), mengungkapkan Wikipedia versi rahasia mereka, dan mengatakan bentuk ensiklokedia populer on-line yang terkenal karena keterbukaannya tersebut adalah kunci bagi kegiatan mata-mata masa depan Amerika.


Otoritas kantor intelijen AS, John Negroponte, mengumumkan Intellipedia, yang memungkinkan analisis intelijen dan pejabat lain secara bersama-sama menambah dan mengedit conten jaringan rahasia pemerintah, Intelink Web, di semua jaringan Internet seluruh dunia.


Sistem Intellipedia 'yang sifatnya sangat rahasia' (top secret), yang saat ini tersedia bagi semua 16 lembaga yang membentuk masyarakat intelijen AS, telah berkembang lebih dari 28.000 halaman dan 3.600 pemakai yang terdaftar sejak jaringan tersebut diluncurkan pada 17 April.
Semenara versi yang tak terlalu tertutup tersedia bagi bahan yang bersifat "rahasia" dan "sensitif tapi tak rahasia". Sistem ini juga tersedia bagi Lembaga Keamanan Angkutan dan berbagai laboratorium nasional.


Intellipedia saat ini digunakan untuk mengumpulkan laporan utama intelijen, yang dikenal sebagai perkiraan intelijen nasional, mengenai Nigeria serta laporan tahunan negara Departemen Luar Negeri mengenai terorisme, kata pejabat intelijen.


Pada waktunya, jaringan tersebut juga akan menjadi jalur yang digunakan para pejabat intelijen untuk menghasilkan taklimat intelijen harian presiden.
Tetapi sistem ini, yang menyediakan data bagi ribuan pengguna yang takkan memperolehnya melalui cara lain, juga telah memicu kekhawatiran mengenai potensi penyelewengan keamanan menyusul kebocoran perkiraan intelijen nasional belum lama ini ke media sehingga menyulut kontroversi politik dengan pengidentifikasian Irak sebagai penyumbang bagi merebaknya terorisme global.


"Kita berani ambil resiko. Ada resiko (perkiraan intelijen) ini akan muncul dan bocor ke media," papar Michael Wertheimer, kepala pejabat teknis masyarakat intelijen.
Para pejabat intelijen mengatakan bentuk tersebut dinilai sempurna untuk berbagi keterangan antar-lembaga, lembaga pembaruan yang menetapkan kantor Negroponte sebagai pengarah intelijen nasional setelah serangan 11 September.


Mereka juga mengatakan itu dapat mengarah kepada laporan intelijen yang lebih akurat karena sistem tersebut memungkinkan sejumlah pejabat untuk memilah bahan dan menyimpan catatan lengkap yang langgeng mengenai sumbangan perorangan termasuk pandangan yang berbeda.


Itu mungkin membantu menghindari kekeliruan seperti yang terjadi pada perkiraan intelijen nasional yang dikecam banyak orang pada 2002 yang menyatakan Saddam Hussein memiliki banyak simpanan senjata pemusnah massal.


Para pejabat intelijen juga sangat berminat pada Intellipedia sehingga mereka berencana memberi akses kepada Inggris, Kanada dan Australia.
Bahkan Cina pun dapat diberi akses guna membantu menghasilkan perkiraan intelijen yang tak rahasia mengenai ancaman yang ditimbulkan oleh penyakit menular di seluruh dunia.
"Kami berharap akan dapat berhubungan dengan dokter di Shanghai yang mungkin memiliki sumbangan bermanfaat mengenai flu unggas," kata seorang pengulas senior intelijen, Fred Hassani, seperti dilansir dari Reuters, Rabu
Read More...

Teknologi, Sahabat Terbaik Perempuan!





"Permata bukan lagi dambaan para wanita." Begitulah kira-kira hasil penelitian di Amerika Serikat yang mengatakan bahwa 3 dari 4 wanita modern kini lebih menyukai TV plasma ketimbang kalung permata.

Survei yang dimotori oleh jaringan televisi kabel, Oxygen Network - yang direktur dan sebagian besar pegawainya adalah kaum hawa itu - membuktikan bahwa kesenjangan teknologi antara pria dan wanita kini sudah semakin menipis, dengan semakin banyaknya jumlah wanita yang memiliki dan mampu mengoperasikan teknologi baru dengan mudah.

Dari hasil penilaian survei, ditemukan bahwa rating kepemilikan teknologi di kalangan wanita mencapai 6,6 hanya selisih tipis dari kaum pria yang ratingnya 6,9. Selain itu, empat dari lima wanita merasa nyaman menggunakan teknologi dan sebanyak 46% diantaranya mampu memperbaiki komputer sendiri bila terjadi kerusakan.

"Dulu, banyak orang beranggapan bahwa wanita tidak secanggih pria saat menghadapi teknologi, dan saya terkejut setelah melihat kemampuan wanita dalam hal teknologi saat ini ternyata tak kalah dari kaum pria," ujar Geraldine Laybourne, ketua sekaligus direktur eksekutif Oxygen Network.

Berdasarkan survei bertajuk "The Girls Gone Wired" yang didukung oleh spesialis penelitian marketing, TRU, dengan mengumpulkan 1.400 responden wanita dan 700 responden pria berusia 15 hingga 49 tahun itu diketahui bahwa mayoritas kaum wanita lebih memilih memiliki barang berbau teknologi ketimbang barang mewah seperti perhiasan atau berwisata.
Buktinya, saat disuruh memilih apakah mereka ingin memiliki TV plasma ataukah perhiasan kalung permata dan liburan ke Florida, 77% diantaranya memilih TV plasma ketimbang perhiasan, dan 56% lebih mementingkan punya TV plasma ketimbang menikmati acara wisata.
Lebih mengherankan lagi, sebanyak 86% responden wanita mengaku lebih senang memiliki kamera video digital baru ketimbang membeli sepasang sepatu buatan desainer terkenal. Dari survei itu juga ditemukan bahwa sampai 5 tahun ke depan, para wanita akan semakin mahir dalam penggunaan teknologi seperti kamera digital, telepon selular, e-mail, telepon kamera, berkomunikasi lewat fasilitas SMS dan juga chatting di internet.

Laybourne berharap kemampuan pemanfaatan teknologi di kalangan wanita ini bisa terus meningkat secara signifikan. Selain itu, para pengiklan produk teknologi dituntut lebih peka terharap fenomena ini guna memperbarui strategi pemasaran mereka di masa depan. "Pengetahuan dan penguasaan wanita terhadap teknologi harus lebih dihargai," tambahnya. Read More...

Tuesday, October 2, 2007

Antara IP Public dan Private

Dalam jaringan komputer dikenal dua tipe alamat IP yaitu public dan private. Alamat umum diberikan oleh Internet Service Provider (ISP) untuk berhubungan ke Internet. Bagi host di dalam organisasi yang tidak memerlukan akses langsung ke Internet alamat IP yang tidak menduplikasi alamat umum yang sudah diberikan masih tetap dibutuhkan. Untuk memecahkan persoalan alamat ini, para disainer Internet mencadangkan suatu bagian dari ruang alamat IP dan menamai ruang ini sebagai ruang alamat pribadi. Suatu alamat IP pada ruang alamat pribadi tidak pernah diberikan sebagai alamat umum. Alamat IP di dalam ruang alamat pribadi dikenal sebagai alamat pribadi atau Private. Dengan memakai alamat IP pribadi, pemakai dapat memberikan proteksi dari para hacker jaringan.
Karena alamat IP pada ruang alamat pribadi tidak akan pernah diberikan oleh Internet Network Information Center (InterNIC) sebagai alamat umum, maka route di dalam Internet router untuk alamat pribadi takkan pernah ada. Alamat pribadi tidak dapat dijangkau di dalam Internet. Oleh karena itu, saat memakai alamat IP pribadi membutuhkan beberapa tipe proxy atau server untuk mengkonversi sejumlah alamat IP pribadi pada jaringan lokal menjadi alamat IP umum yang dapat di-routed. Pilihan lain adalah menerjemahkan alamat pribadi menjadi alamat umum yang valid dengan Network Address Translator (NAT) sebelum dikirimkan di Internet. Dukungan bagi NAT untuk menerjemahkan alamat umum dan alamat pribadi memungkinkan terjadinya koneksi jaringan-jaringan kantor-rumah atau kantor yang kecil ke Internet.
Sebuah NAT menyembunyikan alamat-alamat IP yang dikelola secara internal dari jaringan-jaringan eksternal dengan menerjemahkan alamat internal pribadi menjadi alamat eksternal umum. Hal ini mengurangi biaya registrasi alamat IP dengan cara membiarkan para pelanggan memakai alamat IP yang tidak terdaftar secara internal melalui suatu terjemahan ke sejumlah kecil alamat IP yang terdaftar secara eksternal. Hal ini juga menyembunyikan struktur jaringan internal, mengurangi resiko penolakan serangan layanan terhadap sistem internal. Read More...